RevoU bekerja sama dengan BINUS University dan GreatNusa menghadirkan Applied AI, Analytics, & Automation Program, program 12 minggu high-intensity training untuk membekali kamu dengan tiga skill paling dicari di 2026: AI, Data, dan Automation.
Tidak hanya teori, kamu akan memahami cara mengolah data real-world, problem solving dengan AI, membangun workflow automation sesuai kebutuhan kerja modern, serta menerjemahkan insight menjadi keputusan bisnis.
Tujuannya sederhana: membantumu menjadi AI-enabled professional yang tidak hanya bisa menggunakan tools, tetapi juga mampu menciptakan impact nyata di dunia kerja.
Dan untuk membantumu mencapai itu, program ini didukung oleh para instructor berpengalaman di bidang AI, data, dan automation.
Mereka bukan hanya pengajar, tapi juga praktisi yang sudah menerapkan AI, data, dan automation langsung di dunia kerja.
Gabriel Handowo | Lead Data Analyst at EDTS
- Fokus mengajarkan practical, industry-ready skills di bidang data
- Membantu learners memahami konsep teknis secara aplikatif dan mudah dipraktikkan
- Mendorong learners membangun project dan portfolio yang relevan dengan industri
Brandy | Data & Analytics Senior Manager at L'Oréal
- Berpengalaman dalam data analytics dan problem solving di industri
- Membimbing learners mengolah data menjadi insight yang actionable
- Membagikan perspektif tentang bagaimana data digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis
Husein Indra Kusuma | Head of Technology & Product at Forewave
- Praktisi tech dengan fokus pada real-world product & technology development
- Membantu learners membangun mindset problem solver dalam teknologi
- Mengajarkan cara mengembangkan skill teknis yang siap dipakai di dunia kerja
AI: Ancaman atau Superpower?
Gabriel: Menurut Gabriel, AI memang disruptive — bahkan untuk pekerjaan knowledge-based seperti data analytics. Tapi justru di situlah poin pentingnya.
Ke depan, pembeda top performers dan average performers bukan siapa yang paling banyak tahu. Melainkan siapa yang paling mampu leverage AI untuk meningkatkan kualitas dan kecepatan kerja.
AI bisa menemukan pattern, melakukan forecasting, hingga rekomendasi keputusan. Tapi AI tetap punya batas: konteks bisnis, intuisi, dan judgement manusia.
Peran kita berubah menjadi:
- Memberi konteks yang tepat
- Mengarahkan AI ke problem yang benar
- Menjadi final decision maker
"Bukan soal AI menggantikan manusia, tapi manusia yang bisa memanfaatkan AI akan menggantikan manusia yang tidak bisa." — Gabriel
Brandy: Menurut Brandy, yang paling rentan digantikan AI adalah pekerjaan administratif dan repetitif — dan itu kabar baik.
"AI bekerja paling optimal kalau input-nya bagus. Artinya, kita tetap pegang kendali. Anggap saja AI seperti asisten pribadi: dia yang kerjakan tugasnya, tapi kamu yang mengarahkan. Dan orang yang bisa mengarahkan dengan baik, itulah yang akan makin bernilai." — Brandy
Husein: Bagi Husein, AI bukan pengganti orang, tapi untuk mengangkat kapasitas. AI bisa handle task repetitif. Kita fokus ke: framing masalah, ambil keputusan dan berpikir strategis.
"Yang punya leverage ke depan bukan yang paling jago tool — tapi yang bisa pakai AI dengan konteks bisnis yang tepat." — Husein