Memimpin pengembangan produk digital di tengah fase scale-up memberikan tantangan tersendiri. Di satu sisi, pendanaan baru menuntut percepatan launching versi produk terbaru. Di sisi lain, batas bottom line perusahaan menuntut pengelolaan alokasi sumber daya secara cermat.
Inilah dilema nyata yang dihadapi oleh Arief Yunansyah, seorang Product Lead di sebuah startup teknologi yang sedang bertumbuh. Dengannya, hanya ada lima orang dalam tim untuk mengeksekusi workload yang kian menggunung.
"Waktu saya lebih banyak habis untuk pekerjaan teknis seperti menyusun PRD dan menyintesis hasil research, dibanding memikirkan arah strategis produk. Dari situ saya berpikir, pekerjaan yang sifatnya repetitif ini seharusnya bisa diotomasi menggunakan AI," ungkap Arief.
Menyadari pentingnya efisiensi proses tanpa harus membebani revenue dengan hiring anggota tim baru, Arief memutuskan mengambil langkah strategis: mendalami Data-Driven & AI Decision Making for Leaders di program kolaborasi ITB x RevoU.
Bagaimana perjalanan Arief memanfaatkan framework AI dan otomasi untuk mempercepat ritme kerja dan mengambil keputusan produk secara presisi? Mari kita bedah perjalanannya!
Urgensi Waktu & Solusi Tanpa Tambah Headcount
Sebagai seorang Product Lead, Arief memegang kendali atas keputusan penting, mulai dari fitur yang harus diluncurkan hingga penentuan roadmap produk. Namun, ketika investor mulai menanyakan progress peluncuran versi terbaru produk, Arief dan timnya dihadapkan pada persimpangan jalan.
"Tim kami cuma berlima. Kalau menambah orang baru dengan kondisi bottom line saat itu, justru akan membuat revenue makin berat. Urgensinya memang ada di waktu. Kami butuh cara agar pekerjaan repetitif bisa diotomasi sehingga versi baru produk bisa diluncurkan lebih cepat."
Melihat jadwal program RevoU yang paling responsif dan pas dengan kebutuhan operasional timnya, Arief tidak menunda kesempatan untuk langsung mendaftar.
Navigasi Kesibukan Eksekutif di Tengah Development Produk
Membagi waktu antara mengarahkan produk dan mengeksekusi detail teknis bukanlah hal yang mudah, terlebih saat harus mengikuti kelas profesional. Tidak jarang Arief harus berada di depan laptop hingga larut malam.
"Extra time untuk membangun produk pasti ada. Kadang saya masih di depan laptop sampai jam sembilan malam dan itu bentrok dengan jadwal kelas. Tapi itu masih bisa diatasi. Biasanya saya menonton recording di weekend atau waktu senggang supaya bisa memahami kembali materi yang terlewat."
Bagi Arief, komitmen belajar di tengah kesibukan eksekusi adalah investasi yang harus dibayar demi mendapatkan leverage efisiensi jangka panjang untuk timnya.
Beyond Tools: Framework Data & Decision Making yang Mengubah Pola Pikir
Bagi praktisi yang sudah akrab dengan tools AI, nilai utama dari sebuah program kepemimpinan bukanlah sekadar cara mengetik prompt. Hal yang paling berkesan bagi Arief justru terletak pada framework pemikiran dan pengolahan data untuk pengambilan keputusan bisnis.
"Yang membuat saya tertarik justru karena program ini bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, tetapi bagaimana memanfaatkan AI untuk membantu decision making. Materi awal seperti best practice mengolah data, ketelitian terhadap output AI, serta framework decision making itu yang paling terasa manfaatnya. Saya juga sangat menyukai sesi A/B Testing dengan pengujian hipotesisnya."
Selain framework keputusan, materi otomasi teknikal di tahap lanjut, seperti implementasi N8N menjadi nilai tambah nyata yang langsung relevan dengan kebutuhan efisiensi alur kerja di perusahaannya.
Simulasi Real Use Case dan Kolaborasi Tim
Salah satu keunggulan yang dimanfaatkan Arief selama program adalah penerapan real use case langsung dari perusahaan yang dipimpinnya.
"Dengan tugas individu, enaknya saya bisa menggunakan real use case dari company saya sendiri. Beberapa data sensitif memang saya anonimkan, tapi kasusnya benar-benar terjadi di lapangan."
Arief juga menyoroti pentingnya simulasi tugas kelompok bagi para leader. Menurutnya, decision making di tingkat manajemen tidak berhenti pada pembuatan dokumen, melainkan bagaimana mengomunikasikan instruksi dan kerangka keputusan tersebut ke seluruh anggota tim dengan peran yang berbeda-beda.
Pesan untuk Para Leader: Pahami Kebutuhan & Ukur Efisiensi
Sebagai seorang pemimpin yang analitis, Arief memberikan pandangan yang sangat objektif bagi para manajer atau pemilik bisnis yang sedang mempertimbangkan untuk mempelajari otomasi AI.
"Saya pasti akan tanya dulu kebutuhannya apa. Penggunaan AI dan otomasi itu belum tentu cocok untuk semua kasus. Tapi, kalau kasusnya seperti saya, seorang Product Lead atau Product Manager yang banyak mengerjakan pekerjaan repetitif seperti membuat PRD, menganalisis research, atau menyusun dokumen, program ini sangat saya rekomendasikan. Otomasi bisa jauh lebih efisien dibanding harus hire Product Manager baru."
Bagi Arief Yunansyah, AI bukan sekadar alat pembantu coding atau penulisan, melainkan pengungkit strategis (strategic lever) yang memungkinkan tim kecil menghasilkan dampak sebesar tim berskala besar.
Ingin Tingkatkan Efisiensi Bisnis & Decision Making Tim Kamu Seperti Arief?
Siap membawa eksekusi produk dan keputusan bisnis kamu ke level berikutnya tanpa harus menambah beban headcount?
Bergabunglah di program Data-Driven & AI Decision Making for Leaders kolaborasi ITB x RevoU. Pelajari framework pengambilan keputusan berbasis data, otomasi alur kerja tingkat lanjut, dan langsung terapkan pada studi kasus nyata perusahaanmu!
Data-Driven & AI Decision Making for Leaders