Skip to content
Cerita Alumni

Bukan Cuma Keren-kerenan: Cara Head of HC & Finance Ini Dorong Adopsi AI yang Berdampak ke Bisnis

Hendy Nugroho

Hendy Nugroho

Head of Human Capital & Finance Division · Global Industrial & Heavy Equipment Enterprise

Di era disrupsi saat ini, banyak organisasi terburu-buru mengadopsi teknologi baru hanya demi label modernisasi. Padahal di mata para pemimpin fungsional, transformasi digital bukan panggung untuk sekadar terlihat canggih, melainkan instrumen strategis yang wajib memberikan dampak positif terukur dan return on investment (ROI) yang jelas.

Prinsip tersebut dipegang teguh oleh Hendy Nugroho, Head of Human Capital & Finance Division. Membawahi portofolio lintas divisi yang mencakup Human Capital, Finansial, hingga Digitalisasi Perusahaan, Hendy menyadari bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence) harus bergerak melampaui kebiasaan dasar.

"Sebelumnya saya sudah menggunakan AI dalam pekerjaan sehari-hari, tapi masih terbatas pada mekanisme chatting dan meminta feedback. Saya penasaran dengan mekanisme yang namanya workflow. Itu sebetulnya trigger saya mengikuti pelatihan ini," ungkap Hendy.

Rasa penasaran untuk mengubah AI dari sekadar alat tanya-jawab menjadi alur kerja operasional yang utuh membawanya bergabung ke program ITB x RevoU: Data-Driven & AI Decision Making for Leaders.

Bagaimana perjalanan 12 minggu tersebut membuka perspektif baru Hendy dalam menggerakkan digitalisasi yang berdampak nyata? Simak pembahasannya!

Eksplorasi Workflow AI untuk Kebutuhan Kerja yang Lebih Kompleks

Bagi banyak profesional, interaksi dengan AI kerap terhenti pada perintah prompting sederhana. Namun ketika menyelami kurikulum 12 minggu di program ITB x RevoU, Hendy menemukan bagaimana teori pengambilan keputusan dipadukan secara terstruktur dengan kapabilitas teknis AI.

"Menurut saya, pelatihannya sangat lengkap. Dari 12 minggu itu dimulai dari teori pengambilan keputusan sampai dengan implementasi ke AI-nya tersendiri," cerita Hendy. "Saya mendapatkan satu insight bahwa apa yang saya lakukan sebelumnya ternyata baru sebagian kecil dari potensi AI dalam kehidupan kita sehari-hari."

Pengenalan terhadap mekanisme workflow membuka pemahaman baru: AI bukan sekadar lawan bicara digital, melainkan mesin otomasi yang mampu merangkai berbagai tahapan analisis data menjadi alur kerja yang terstruktur dan minim friksi.

Menetapkan KPI dan Dampak Bisnis yang Nyata

Sebagai pimpinan di sektor finansial dan human capital, pertimbangan utama Hendy terhadap proyek digitalisasi selalu bermuara pada nilai tambah organisasi. Transformasi tidak boleh berhenti pada konsep, melainkan harus bisa dihitung manfaatnya.

"Salah satu hal terpenting yang saya pegang adalah suatu program tidak bisa jika tidak dilakukan monetize atas benefit-nya. Kita harus jelas purpose-nya apa, KPI-nya apa, kemudian dampaknya seperti apa," tegas Hendy.

Berangkat dari prinsip tersebut, Hendy mulai mengarahkan implementasi AI ke departemen-departemen di bawahnya, khususnya pada area-area fungsional yang paling krusial. Fokus utamanya mencakup akselerasi pengambilan keputusan, kemampuan analisis data yang mendalam (deep dive), hingga pemanfaatan model machine learning untuk kebutuhan pemecahan masalah operasional.

Menjawab Tantangan VUCA: AI Memberi Sinyal, Pemimpin Mengambil Putusan

Dunia korporasi saat ini bergerak di tengah ketidakpastian tinggi (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity atau VUCA). Dengan volume data yang terus membanjir, mempertahankan metode konvensional dalam membuat keputusan bisnis berisiko membuat organisasi tertinggal.

"Saat ini kita tidak bisa mengabaikan adanya AI, ini adalah suatu keniscayaan. Kita tidak bisa lagi mengambil keputusan hanya dengan metode konvensional. Kita harus membuat keputusan dengan cepat dan tepat," jelas Hendy.

Kendati demikian, kecepatan analisis AI tidak lantas menggeser peran nalar strategis seorang leader. Menurut Hendy, keseimbangan antara kekuatan komputasi dan intuisi manusia adalah kunci utama tata kelola modern.

"Kita menggunakan AI untuk mempersiapkan data, memberikan gambaran apa yang sedang terjadi, serta menyusun rekomendasi keputusan. Tapi tetap, pengambilan keputusan akhir berada di tangan manusia. Kita tidak boleh sepenuhnya bergantung pada AI," tutupnya.

Ingin Membawa Transformasi AI yang Terukur dan Berdampak di Perusahaan Anda?

Tinggalkan cara kerja konvensional dan bangun kapabilitas data-driven decision making di tim Anda bersama ITB x RevoU: Data-Driven & AI Decision Making for Leaders. Pelajari arsitektur workflow, rancang KPI digitalisasi yang terukur, dan diskusikan strategi langsung bersama jajaran praktisi industri!

Data-Driven & AI Decision Making for Leaders

Ready to lead with data?

Apply Now Book a Consultation

© 2026 RevoU × Institut Teknologi Bandung. All rights reserved.