Skip to content
Kelas Gratis
Program
Transformasi Karier
Digital Marketing with AI

7 Bulan · Program Digital Marketing No. 1 di Indonesia

Coba Kelas Gratis
Data Analytics with AI

7 Bulan · Program Data Analytics No. 1 di Indonesia

Coba Kelas Gratis
Software Engineering with AI

8 Bulan · Belajar coding lebih cerdas dengan AI dan AWS

Coba Kelas Gratis
Sertifikasi Universitas
Institut Teknologi Bandung Data-Driven Decision Making

3 Bulan · Hybrid

Coba Kelas Gratis
Kembali ke Cerita Alumni
Kisah Tenri, dari Peneliti di Jerman hingga Menjadi Data Scientist di Indonesia
Data Analytics career-switcher-23-29

Kisah Tenri, dari Peneliti di Jerman hingga Menjadi Data Scientist di Indonesia

Tenri, seorang peneliti cognitive neuroscience lulusan pascadoktoral di Universität Bremen, Jerman, memutuskan untuk belajar data analytics di RevoU dan berhasil berkarier sebagai Data Scientist di Folkatech, perusahaan teknologi yang menangani proyek strategis pemerintah Indonesia.

Bagi sebagian orang, memiliki karier riset cemerlang di Eropa adalah sebuah mimpi besar. Namun bagi Prasakti Tenri Fanyiwi, realitas di balik dunia akademia tidak selalu seindah kelihatannya. Setelah bertahun-tahun melanglang buana sebagai peneliti di Belanda, Amerika Serikat, Inggris, hingga menjadi Postdoctoral Researcher di Universität Bremen, Jerman, Tenri mengambil keputusan besar: pindah kapal ke dunia industri.

Tenri saat berkarier sebagai Postdoctoral Researcher di Universität Bremen, Jerman.
Tenri saat berkarier sebagai Postdoctoral Researcher di Universität Bremen, Jerman.
Mengenakan EEG cap dalam salah satu penelitian cognitive neuroscience.
Mengenakan EEG cap dalam salah satu penelitian cognitive neuroscience.

Kini, ia telah berhasil pulang ke tanah air dan menjabat sebagai Data Scientist di Folkatech, sebuah perusahaan teknologi yang sedang menangani proyek strategis pemerintah.

"Karier penelitian itu punya sisi brutalnya sendiri. Ambiguitasnya seringkali melumpuhkan karena tidak ada end point yang jelas. Ditambah lagi, jauh dari keluarga di Indonesia membuat saya melewatkan banyak momen penting. Di titik itu saya sadar, saya butuh arah baru, dan RevoU jadi jembatan saya untuk terhubung dengan dunia industri."

Bagaimana seorang peneliti cognitive neuroscience menundukkan egonya untuk belajar menerjemahkan data menjadi profit bisnis, merombak CV-nya yang "acak-acakan", hingga mendapatkan pekerjaan pertamanya lewat kekuatan networking alumni? Simak kisah inspiratif Tenri!

Riset Tenri seputar pemrosesan bentuk visual (visual cortex) pada otak.
Riset Tenri seputar pemrosesan bentuk visual (visual cortex) pada otak.
Tenri mempresentasikan risetnya, “Flexible shape processing at different scales in the visual cortex”, di sebuah konferensi ilmiah (Universität Bremen).
Tenri mempresentasikan risetnya, “Flexible shape processing at different scales in the visual cortex”, di sebuah konferensi ilmiah (Universität Bremen).

Masuk ke Keadaan "Flow" dan Menulis White Paper di RevoU

Keputusan Tenri untuk memilih program FSDA RevoU berawal dari rekomendasi seorang teman dekatnya. Begitu melihat kurikulumnya yang rigid dan terstruktur, ia langsung teringat ritme belajarnya yang lama. Sebagai seseorang yang menyukai pembelajaran terstruktur, Tenri bahkan langsung menikmati ritme harian kelas reguler hingga berhasil menyabet gelar "King of Quizzes".

Suasana kelas reguler online program Full Stack Data Analytics RevoU.
Suasana kelas reguler online program Full Stack Data Analytics RevoU.

Salah satu momen paling berkesan bagi Tenri adalah ketika ia mengerjakan tugas akhir kelompok (DEEPP Project).

"Jujur, awalnya saya minder karena melihat kualitas assignment siswa lain bagus-bagus banget. Tapi pas ngerjain DEEPP, saya ngerasa terserap penuh. Dalam psikologi, ada istilahnya 'state of flow'—keadaan di mana kita begitu menikmati proses menganalisis data sampai lupa waktu."

Kerja kerasnya berbuah manis. Tenri terpilih menjadi salah satu dari 5 siswa terbaik untuk mempresentasikan proyeknya di depan fakultas. Menariknya, latar belakang akademisnya sempat memancing komentar unik dari instruktur: "Slide deck kamu... kok lebih mirip white paper, ya?" Dari feedback itulah Tenri tahu persis di mana kekuatan dan kelemahan yang harus ia sesuaikan untuk masuk ke industri.

Salah satu slide DEEPP Project Tenri yang menerjemahkan data menjadi business insights.
Salah satu slide DEEPP Project Tenri yang menerjemahkan data menjadi business insights.

Kejengkelan yang Berubah Menjadi Skill Berharga

Pindah dari dunia sains ke dunia bisnis ternyata memberikan benturan budaya tersendiri bagi Tenri. Di awal masa belajarnya, ia sempat merasa jengkel dengan salah satu standar penilaian tugas di RevoU: kewajiban memberikan business insights dan recommendations.

"Sebagai pekerja sains, saya nggak biasa langsung ngasih kesimpulan atau rekomendasi bisnis yang sifatnya 'actionable'. Kalau kamu baca jurnal ilmiah, bagian discussion itu penulisan tonenya hati-hati sekali karena sains menganggap semua hasil itu sementara. Makanya awal-awal saya jengkel, 'Kenapa sih harus maksa bikin rekomendasi bisnis?'"

Namun seiring berjalannya waktu, resistensi itu runtuh. Tenri menyadari bahwa di dunia industri, justru kemampuan menerjemahkan angka mentah menjadi strategi bisnis itulah yang paling dicari oleh perusahaan. Ia pun menurunkan egonya dan mulai melatih cara berpikir tersebut.

Bertahun-tahun Tenri berkarier sebagai peneliti di laboratorium.
Bertahun-tahun Tenri berkarier sebagai peneliti di laboratorium.
Peralatan riset di laboratorium tempat Tenri bekerja sebelumnya.
Peralatan riset di laboratorium tempat Tenri bekerja sebelumnya.

Menyadari CV yang "Acak-Acakan" di RevoU NEXT

Tantangan sesungguhnya baru terasa saat memasuki tahap persiapan kerja di RevoU NEXT. Sebelum aset pencarian kerjanya diperiksa, Tenri sempat heran mengapa ia tidak pernah mendapatkan tawaran kerja sama sekali dari industri. Jawabannya langsung ketemu begitu ia berkonsultasi dengan Strategic Career Coach (SDC).

"Ternyata CV saya sangat acak-acakan untuk standar industri! LinkedIn saya juga kosong melompong karena selama di riset hampir nggak pernah dipakai. Proses revisi aset ini sulit banget buat saya. Saya harus bolak-balik nanya ke SDC (Kak Afifah) dan instruktur (Rara, yang untungnya teman lama saya) buat benerin semuanya."

Bukan cuma itu, Tenri juga harus melewati simulasi wawancara (mock interview) kerja menggunakan bahasa Inggris yang dilakukan secara live di depan umum. Meskipun terasa menegangkan (nerve-wrecking), sesi tersebut membuka matanya tentang celah-celah kecil yang masih bolong pada kemampuan interview-nya.

Berkah dari Iseng dan Kekuatan Alumni Network

Setelah melewati masa-masa pencarian kerja yang intens hingga sempat berada di tahap pasrah (desperate), sebuah keajaiban datang di suatu pagi. Saat sedang iseng mengecek saluran lowongan kerja di Slack RevoU NEXT, Tenri melihat ada sebuah iklan lowongan untuk posisi Data Scientist di Folkatech. Uniknya, lowongan tersebut di-post oleh seorang alumni RevoU dari program Digital Marketing.

"Saya iseng aja melamar tanpa berharap banyak karena biasanya lowongan data jarang di-post di situ pagi-pagi. Tapi luar biasanya, di hari yang sama saya langsung dihubungi untuk interview! Dan tebak siapa Project Manager saya sekarang di Folkatech? Ternyata alumni Digital Marketing yang nge-post lowongan itu!"

Realitas Baru: Menantang Intuisi Stakeholders dengan Data

Kini, sudah 1,5 bulan Tenri menjalani profesi barunya sebagai Data Scientist. Ia bertanggung jawab penuh dalam mengumpulkan, menganalisis, dan memodelkan data untuk proyek berskala makro milik pemerintah.

Latar belakang risetnya yang kuat membuat Tenri sangat rigid dalam menentukan validitas data, tingkat kementahan (raw data), hingga granulasinya. Bahkan, ia tidak segan untuk bersikap vokal di depan para stakeholders non-teknis.

Latar belakang riset yang kuat membuat Tenri sangat teliti terhadap validitas data.
Latar belakang riset yang kuat membuat Tenri sangat teliti terhadap validitas data.

"Menghitung rumus atau membuat indeks itu perkara mudah, tapi memikirkan apakah perhitungan itu punya makna (meaningful) bagi bisnis itu tantangan lain. Seringkali saya harus bilang ke stakeholders, 'Intuisi Anda kemungkinan salah karena alasan A, B, dan C...' atau 'Saya tidak bisa memenuhi permintaan ini karena parameternya belum terdefinisi dengan jelas. Mari kita bedah bersama.' Hal-hal seperti itu justru jadi aspek pekerjaan yang paling menyenangkan bagi saya."

Secara teknis, Tenri saat ini banyak melakukan time series forecasting untuk memprediksi indikator ekonomi nasional. Dari segi ritme kerja, ia merasakan perbedaan yang sangat kontras. Jika di dunia sains ketelitian (rigor) adalah segalanya dengan tempo lambat, di dunia industri kecepatannya berkali-kali lipat lebih dinamis dan menuntutnya untuk terus menguasai berbagai tools baru dalam waktu singkat.

Pesan Tenri: Jangan Takut "Pindah Kapal"

Bagi para akademisi, peneliti, atau profesional di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Math) yang saat ini merasa terjebak namun takut untuk melangkah ke dunia data industri, Tenri memberikan satu pesan penutup yang realistis:

"Jangan takut mencoba pindah kapal. Dunia akademia itu brutal dan sistemnya memang bukan dirancang untuk semua orang—dan itu sama sekali bukan salahmu. Buat kalian yang punya latar belakang STEM, ingatlah kalau kalian sebenarnya punya banyak modal technical skill dan pengalaman analitis kuat yang bisa dibawa dan sangat berharga di bidang analytics."

Tenri menikmati waktu di Eropa sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.
Tenri menikmati waktu di Eropa sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.