Banyak orang berpikir bahwa berganti haluan karier ke bidang data berarti harus membuang total pengalaman kerja di masa lalu. Namun bagi Paolo M Hernandez, petualangannya di RevoU bukanlah sebuah aksi "banting setir" tanpa arah, melainkan sebuah misi untuk meng-upgrade sistem operasi dirinya.
Sebelumnya, Paolo adalah seorang Finance & Business Strategy Associate di Starmika. Dengan pengalaman lebih dari 3 tahun, ia sudah terbiasa melihat bisnis dari kacamata finansial. Namun, ia merasa ada sesuatu yang kurang.
"Selama 3+ tahun kerja di Finance, saya ngerasa kayak punya bahan bakar tapi mobilnya nggak lengkap. Excel dan intuisi cuma bisa bawa saya sejauh itu. Suatu titik saya sadar: kalau saya bisa ngomong pakai data dengan lebih dalam, keputusan bisnis yang saya buat bakal jauh lebih tajam. RevoU jadi jawaban untuk upgrade sistem operasi itu."
Kini, Paolo telah berhasil mewujudkan salah satu ambisi besarnya: menembus pasar kerja internasional dengan menjadi seorang Analyst di Delivery Tasker, sebuah perusahaan berskala global.
Bagaimana perjalanan seorang atlet boling sekaligus musisi Spotify ini dalam menaklukkan ego, mengubah strategi pencarian kerja, hingga memikat hati CEO perusahaan asing? Simak cerita lengkapnya!
Membuka "Cheat Code" Bernama Data Analytics
Bagi Paolo, dunia internasional sebenarnya bukan hal yang baru. Lahir dari ayah yang berasal dari Filipina membuat bahasa Inggris menjadi bahasa sehari-hari di rumahnya. Melalui hobi bolingnya pun, ia sering berkompetisi dan membangun koneksi dengan orang-orang di luar negeri.
Ketika ia ingin melangkah ke ranah profesional global, Data Analytics menjadi pilihan tiket emas yang paling masuk akal.
"Data Analytics relevan di mana pun. Kita nggak perlu jelasin panjang lebar ke klien atau tim luar negeri; angka dan insight itu bakal ngomong sendiri."
Meskipun memiliki ambisi besar, proses belajar di RevoU tetap memberikan kejutan tersendiri bagi Paolo. Ia masih ingat betul momen magis yang membuatnya jatuh cinta pada bidang data.
"Momen paling memorable itu waktu pertama kali query SQL saya jalan dengan sempurna dan hasilnya langsung menjawab pertanyaan bisnis yang nyata. Rasanya... kayak cheat code tiba-tiba aktif!"
Bagi Paolo, kunci bertahan di kelas reguler RevoU adalah mengubah pola pikir. Dibandingkan menghafal rumus, fokuslah pada esensi bisnisnya. "Syntax bisa di-Google, tapi cara berpikir itu yang harus dilatih," tambahnya.
Hubungan Love-Hate dengan RevoU NEXT
Setelah menyelesaikan kelas reguler dan melewati tantangan berat di DEEPP Project, Paolo melanjutkan langkahnya ke tahap persiapan kerja intensif di RevoU NEXT. Di sinilah mentalitasnya benar-benar diuji.
Paolo secara blak-blakan menggambarkan hubungannya dengan RevoU NEXT sebagai hubungan love-hate.
"Ada momen-momen di mana saya ngerasa ini melelahkan, sedikit irritating, dan pengen napas sebentar. Tapi di sisi lain, saya menikmati proses menyusun CV dan portofolio. Rasanya sangat satisfying bisa melihat seluruh hasil kerja keras saya merepresentasikan diri saya dengan akurat."
Strategi Agresif: Mengirim 23 Lamaran di Minggu Pertama
Ambisi tinggi Paolo sempat membuatnya mengambil strategi "hantam rata" saat awal mencari kerja. Waktu ditargetkan mengirim minimal 6 lamaran dalam seminggu, Paolo berpikir, "Kalau seminggu targetnya 6, kenapa nggak saya kirim 3 sampai 5 lamaran dalam sehari?"
Hasilnya? Di minggu pertama saja, ia sukses mengirimkan 23 lamaran!
Namun, realitas tidak seindah matematika kuantitas. Banyak dari lamaran tersebut berakhir tanpa respons. Dari sana, Paolo mendapatkan tamparan realitas yang berharga.
"Saya jatuh ke trap ngelamar posisi yang kelihatan cocok di permukaan, tapi sebenarnya jauh dari apa yang bisa saya tawarkan. Itu cuma buang energi kedua belah pihak. Jadi ini bukan soal ngerem ambisi, tapi soal ngarahin ambisi itu ke tempat yang tepat."
Menurunkan Ego Bersama Career Support (SDC)
Memasuki Minggu ke-4, Paolo menyadari strateginya harus diubah total. Berbekal data puluhan penolakan yang ia kumpulkan sendiri, ia berdiskusi intensif dengan Strategic Career Coach (SDC) di RevoU.
Di sinilah momen titik baliknya terjadi. SDC memberikan sebuah insight yang menampar egonya:
"Kamu nggak perlu kelihatan bagus di mata semua perusahaan. Kamu cukup kelihatan sangat relevan di mata perusahaan yang tepat."
Saat itu, Paolo memiliki dua versi CV: satu fokus penuh pada Finance & Business Strategy, dan satu lagi mencantumkan pengalaman lepasnya (freelance) sebagai Project Executive. SDC-nya dengan jujur mengingatkan bahwa memasukkan pengalaman freelance yang tidak relevan justru menjadi noise (gangguan) yang membuat HR bingung melihat fokus kariernya.
Menerima masukan tersebut jelas butuh kelapangan dada.
"Ego itu pasti ada. Tapi prinsip saya sederhana: kalau cara yang saya pakai nggak berhasil, bukan berarti saya gagal, tapi artinya saya dapat data baru. Nggak ada gunanya defensif kalau realita di lapangan ngomong hal yang berbeda."
Paolo akhirnya merombak total seluruh aset pencarian kerjanya, memisahkan kedua CV tersebut, dan hanya mengirimkan CV yang paling relevan dengan posisi yang dituju. Dan menariknya, keputusan sederhana ini berbuah manis. Ia justru berhasil diterima kerja menggunakan CV versi Finance yang sudah dioptimasi tersebut!
Bagi Paolo, SDC di RevoU bukan sekadar pengarah karier biasa. Dari skala 1–10, ia tanpa ragu memberikan nilai 10. "Beliau adalah mentor sekaligus role model saya. Saya menyerap setiap perspektifnya karena itu datang dari pengalaman nyata, bukan sekadar teori program," ungkapnya bersyukur.
Live Coding di Depan CEO dan Validasi Skill RevoU
Puncak dari perjuangannya berlabuh di Delivery Tasker. Proses rekrutmennya terbilang intens karena Paolo langsung diwawancarai oleh sang CEO.
Dalam sesi user interview tersebut, Paolo diminta melakukan tes live Excel. Berkat latar belakang finansialnya selama bertahun-tahun, sesi ini berhasil ia lewati dengan sangat percaya diri dan natural.
Namun, kejutan besar datang ketika sang CEO tiba-tiba mulai menanyakan beberapa query SQL—sebuah skill teknis data yang sebenarnya tidak tercantum secara wajib di lowongan tersebut.
"Posisinya saat itu sebenarnya belum butuh SQL. Tapi CEO-nya bilang, kalau nanti ada banyak data besar yang perlu diproses, dia pengen tahu apakah saya bisa jadi orang yang diandalkan. Di situ saya senyum dalam hati dan sadar kalau semua yang saya pelajari di RevoU ternyata terpakai bahkan di luar ekspektasi awal."
Tak hanya itu, sang CEO yang merupakan warga negara Australia sempat kebingungan dan bertanya tentang sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) terstandar yang dimiliki Paolo dari RevoU. Setelah Paolo menjelaskan betapa ketat dan rigidnya proses ujian kompetensi tersebut, sang CEO langsung merasa impresif.
Di titik itulah Paolo tahu bahwa kombinasi kemampuan finansial masa lalu dan kemampuan data analitik barunya telah bertemu di titik optimal.
Pesan Paolo untuk Kamu yang Masih Ragu
Menutup ceritanya, Paolo memberikan sebuah pesan kuat bagi siapa saja yang saat ini masih merasa minder, takut, atau ragu untuk mengambil langkah career switch atau mengejar karier di perusahaan global:
"Kalau kamu mau sesuatu, ya harus siap bayar harganya. Nggak ada yang instan, nggak ada yang tanpa pengorbanan. Tapi yang paling penting itu berani ambil keputusan. Karena pada akhirnya, if you believe you’re the best in your story, make people believe it as well."