Bagi seorang atlet profesional yang telah menghabiskan separuh hidupnya di arena pertandingan, membayangkan hari esok setelah pensiun sering kali menjadi momen yang mendebarkan. Bertahun-tahun terbiasa dengan jadwal latihan yang disiplin, aroma matras pertandingan, dan riuh tepuk tangan penonton saat medali dikalungkan, meninggalkan zona nyaman itu demi memulai karier dari nol di dunia korporat terdengar seperti pertaruhan besar.
Kenyataan hidup tersebut dihadapi langsung oleh Devina Dea. Di panggung olahraga bela diri tanah air, namanya tercatat lewat torehan prestasi bergengsi: peraih medali emas Pekan Olahraga Nasional (PON) dan medali perak SEA Games. Namun pada tahun 2024, ia memutuskan untuk berhenti menjadi atlet profesional sebelum akhirnya resmi pensiun penuh di tahun 2025.
Alih-alih merasa gamang atau hanya bertahan di zona yang familiar, Devina memilih langkah berani: menantang dirinya menjadi pemula kembali. Hari ini, ia sukses meniti karier sebagai Performance Marketing Specialist di Smile Lab Group Lamaison.
"Aku adalah seseorang yang sedang terus belajar dan tidak takut untuk menjadi pemula lagi. Perjalanan hidup bukan tentang harus selalu tahu kita akan sampai di mana, melainkan tentang keberanian mengambil langkah berikutnya, belajar dari prosesnya, dan terus berkembang. Aku memilih mengambil risiko besar keluar dari zona nyaman untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar," ungkap Devina.
Bagaimana mentalitas juara seorang atlet membantunya menaklukkan logika metrik periklanan digital, bangkit dari kegagalan presentasi proyek, hingga direkrut perusahaan lewat optimasi LinkedIn? Mari kita telusuri kisahnya!

Menolak Terjebak di Satu Zona Nyaman
Keputusan Devina untuk menyudahi kariernya di dunia karate profesional tidak lahir secara instan. Menjelang masa pensiunnya, sebuah refleksi mendalam muncul di benaknya.
"Saat itu aku menyadari kalau aku tidak punya hard skill lain di luar karate. Sebagian besar hidupku habis hanya untuk berlatih dan bertanding. Tapi aku tipe orang yang sangat suka belajar hal-hal baru. Kalau setelah pensiun aku masih berkutat di dunia karate saja, rasanya sayang sekali. Usiaku masih cukup muda untuk bisa menguasai bidang lain," tuturnya jujur.
Didorong rasa haus akan perkembangan diri (self-growth) dan keinginan membangun peluang karier yang lebih luas, Devina melirik industri digital. Berbekal latar belakang pendidikan sarjana ilmu komunikasi pemasaran, ia melihat digital marketing sebagai bidang yang sangat dinamis dan akan terus dibutuhkan selama ekosistem digital hidup.
Informasi tentang RevoU ia peroleh dari seorang teman yang merupakan alumni program Data Analytics. Melihat kurikulum dan ekosistem belajarnya yang terstruktur, Devina memantapkan tekad untuk mendaftar di program Full-Stack Digital Marketing (FSDM) RevoU Batch Februari 2026.

Saat Mentalitas Atlet Diuji untuk Menghadapi Ritme Baru
Masuk ke program FSDM dengan status memulai dari titik nol (starting from zero) menghadirkan tantangan mental yang nyata. Jadwal belajar intensif, tenggat waktu penugasan yang ketat, hingga dinamika pengerjaan tugas kelompok (group project) sempat membuatnya terkejut.
"Jujur, aku nggak nyangka ritme belajarnya bakal se-hectic itu. Tapi kuncinya cuma satu: selalu ingat tujuan awal kita apa, apa goal yang mau dicapai, dan jaga rasa ingin tahu (curiosity) terhadap materi digital marketing. Untungnya rekan-rekan satu tim saling dukung, jadi kami bisa saling dorong sampai akhir."
Menariknya, Devina menemukan irisan unik antara dunia olahraga bela diri dan performance marketing. Keduanya menuntut hal yang serupa: ada target nyata yang harus dicapai, angka performa yang harus dianalisis secara objektif, strategi taktis yang harus dirancang sebelum bertanding, dan selalu ada ruang untuk evaluasi.
Jiwa Kompetitif yang Menolak Menyerah
Selama masa belajar, perjalanan Devina tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momen paling berkesan baginya terjadi ketika hasil presentasi (pitching) proyek kelompoknya mendapat penilaian yang sangat buruk dibanding kelompok lain.
"Waktu itu hasil pitching kelompokku benar-benar jelek banget, padahal aku merasa sudah berusaha maksimal. Sempat terlintas rasa ingin menyerah dan mengerjakan proyek berikutnya seadanya saja. Tapi jiwa atlet dan sisi kompetitifku menolak menyerah. Sudah melangkah sejauh ini, rasanya tanggung kalau berhenti setengah-setengah."
Devina memutuskan untuk tidak teralihkan oleh rasa kecewa. Bersama rekan tim yang memiliki komitmen yang sama, ia mengevaluasi kelemahan strategi mereka, mendalami kembali data audiens, dan menyusun presentasi baru yang jauh lebih tajam.
Hasilnya di luar dugaan: pada sesi group project berikutnya, kelompok Devina melompat dari posisi terbawah dan sukses menyabet predikat kelompok dengan nilai tertinggi.
"RevoU memaksa kita untuk langsung mempraktikkan teori lewat tugas-tugas nyata dalam tenggat waktu singkat. Di situ kita dituntut mendorong batas kemampuan diri sendiri. Dari awal aku bertekad: investasiku di RevoU bukan cuma soal uang, tapi waktu, tenaga, dan pikiran. Aku harus menjadikan modal ini sebagai jalan pembuka untuk berkembang di luar dunia yang selama ini aku kenal."

Bukti Portofolio dan Profil LinkedIn yang Relevan Berhasil Memikat Rekruter
Memasuki fase transisi profesional, strategi Devina terbukti membuahkan hasil manis. Kesempatan kariernya di Smile Lab Group Lamaison tidak datang dari proses melamar massal, melainkan lewat pendekatan langsung (recruiter outreach) dari pihak perusahaan di LinkedIn.
Pihak rekruter menemukan profil Devina berkat kata kunci (keywords) spesifik di bidang periklanan digital, khususnya Google Ads, serta penjabaran proyek terukur yang ia cantumkan di profil dan CV hasil bimbingannya selama di RevoU.
Perusahaan kemudian menantangnya dengan sebuah uji teknis (hiring task) periklanan berdurasi tiga hari. Devina mengeksekusi tugas tersebut dengan logika strategi yang rapi dan terukur. Terpukau oleh ketajaman analisisnya meski berstatus sebagai career switcher, manajemen perusahaan langsung meloloskannya ke tahap wawancara dan menyodorkan surat penawaran kerja (offering letter).
Mengelola Pertumbuhan Bisnis Lewat Kampanye Digital Jadi Keseharian Baru
Kini di Smile Lab Group Lamaison, Devina mengemban tanggung jawab penuh sebagai Performance Marketing Specialist. Fokus utamanya adalah merancang strategi periklanan berbayar, menguji audiens, dan melakukan optimasi anggaran kampanye di ekosistem Google Ads dan Meta Ads guna mendatangkan prospek berkualitas (quality leads).
Tantangannya kian nyata karena merek yang ia tangani tergolong baru di pasar, menuntutnya untuk terus memutar otak agar mampu bersaing dengan kompetitor mapan.
"Dunia pemasaran digital itu dinamis sekali. Kita tidak pernah bisa menebak seratus persen alasan seseorang tertarik pada produk kita, tetapi kita selalu bisa membaca data, mengevaluasi metrik, dan mengoptimasi apa yang sudah kita jalankan. Siklus evaluasi dan eksekusi inilah yang terus aku lakukan setiap hari untuk mendorong pertumbuhan pendapatan perusahaan."
Jangan Takut Menjadi Pemula Lagi
Menutup kisahnya, Devina menitipkan pesan penyemangat bagi rekan-rekan atlet, profesional berlatar belakang non-korporat, atau siapa pun yang tengah bimbang untuk melangkah ke industri baru:
"Motivasi untuk berkembang harus selalu lebih besar daripada keraguan dan ketakutanmu. Peluang dan kesempatan itu hadir saat kita sendiri yang berani membuka pintunya. Satu prinsip yang selalu aku pegang: saat kita berani mencoba, pilihannya hanya ada dua, berhasil atau gagal. Kalau berhasil kita teruskan, kalau gagal kita perbaiki. Tapi kalau kita tidak pernah berani mencoba, hasilnya sudah pasti satu: kita gagal sejak awal. Karena itu, jangan pernah takut mencoba hal baru; you've got nothing to lose."
Siap Menemukan Potensi Barumu di Industri Digital?
Latar belakang karier apa pun yang kamu jalani hari ini bukanlah batasan untuk memulai lembaran baru. Asah keterampilan digital yang dibutuhkan industri, bangun portofolio proyek, dan dapatkan bimbingan karier terarah bersama RevoU.